RESPON – NASKAH – HIDUP

– Sewaktu kita mendengarkan orang lain bicara, kita cenderung menyaring apa yang kita dengar berdasarkan pengalaman kita . Latar belakang pengalaman kita biasanya membentuk semacam ” Saringan naskah riwayat hidup ” .

– Kita cenderung menterjemahkan perkataan dan perasaan orang lain sesuai dengan pendapat maupun pengalaman kita . Jika kita berespon, sebenarnya kita memberitahu mereka apa yang akan kita lakukan seandainya kita berada pada posisi mereka, dan bukan apa yang sebaiknya mereka lakukan . Coba ingat – ingat, betapa sering kita berkata : ” kalau saya menjadi anda . . . . ?

– Ada empat jenis respon berdasarkan naskah hidup yang utama :
( 1 ) Menilai ,
( 2 ) Menyelidiki,
( 3 ) Menasihati,
( 4 ) Menafsirkan .
Keempatnya adalah alat kendali yang bisa kita pakai . Kita menggunakannya untuk mengendalikan apa-apa yang kita rasakan bersama orang lain berikut maknanya masing – maring .

– Menilai adalah menghakimi . Bentuknya ada dua : setuju atau tidak setuju . Kita bisa menyatakan penilaian kita secara langsung atau lewat nada suara, ekspresi wajah, maupun sikap tubuh kita . Bentuk manapun yang kita pakai, penilaian adalah cara melihat situasi saat ini bukan sebagaimana adanya, tetapi dari kacamata pengalaman kita masa lalu .

– Menyelidiki dilakukan dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan . Menyelidiki kelihatannya seolah – olah berusaha untuk mengerti, tetapi pertanyaan yang kita ajukan tetap berdasarkan pengalaman kita yang lalu, bukan dari situasi saat ini dimana kita memakainya untuk mengarahkan pembicaraan sesuai apa – apa yang kita anggap penting menurut naskah hidup kita .

– Menasehati adalah memberitahu orang lain apa yang harus mereka lakukan . Jika kita memberi nasehat, pada umum nya kita bermaksud baik . Namun apabila nasehat kita itu lahir dari prasangka – prasangka kita, dan sering memang demikian halnya, itu akan menghalangi komunikasi yang terjadi, karena akan menempati posisi yang harus di pertahankan oleh masing – masing pihak- baik diri kita sebagai si penasehat maupun lawan bicara kita selaku pihak yang menerima nasehat . Menafsirkan adalah menjelaskan mengapa seseorang mengambil sikap tertentu . Bila kita menafsirkan, kita menjelaskan perilaku orang berdasarkan motif – motif di belakangnya . Dengan menafsirkannya, sesungguhnya kita telah merampas rasa tanggung jawab orang itu atas perbuatannya . Resikonya : mereka akan merasa dimanipulasi, terhina, atau seperti sedang kita periksa kondisi kejiwaannya ibarat seorang psikolog . Respon-respon berdasarkan naskah – hidup tidak selalu berarti ” buruk ” atau ” salah ” . Cara-cara demikian dapat juga membantu asalkan didasarkan pengertian yang tepat tentang situasi dimana orang lain berada . Sedangkan kecenderungan umum kita adalah serta-merta menggunakannya sebelum kita berusaha mengerti situasinya dengan lengkap .

By
Arethere ‘ s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: